SUMEDANG — Inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Dirut Bulog ke penggilingan mitra maklon di Sumedang menghasilkan temunan yang cukup baik. Secara umum, proses produksi di CV Putra Sarana dinilai telah memenuhi standar yang ditetapkan Bulog untuk beras medium.
Dalam kunjungannya, Rizal meninjau langsung seluruh tahapan produksi, mulai dari pengeringan gabah hingga hasil akhir penggilingan. Hasil laboratorium menunjukkan kadar air beras yang diproduksi berada di angka 12,8 persen, atau di bawah batas maksimal yang dipersyaratkan.
Standar Beras Medium dan Catatan Aroma
Rizal menjelaskan, standar beras medium Bulog mencakup tiga parameter utama. Kadar patahan (broken) maksimal 25 persen, kadar air maksimal 14 persen, dan kadar menir maksimal 2 persen.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, kualitas beras produksi CV Putra Sarana berada di bawah batas maksimal tersebut. Namun, ada satu catatan yang perlu dievaluasi, yakni aroma beras yang masih sedikit apek.
“Yang saya koreksi hanya baunya saja agar lebih baik. Perlu dievaluasi apakah bahan bakunya belum siap panen atau proses pengeringannya belum optimal. Secara umum kondisinya sudah baik dan memenuhi syarat beras medium,” ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Proses Produksi Gunakan Pengering Berbahan Bakar Kayu
Proses pengeringan gabah di penggilingan ini menggunakan mesin pengering (dryer) berbahan bakar kayu. Metode ini dinilai efektif menekan kadar air hingga mencapai standar yang diinginkan.
“Kami mengecek mulai dari proses pengeringan menggunakan pengering berbahan bakar kayu. Hasil laboratorium menunjukkan kadar air beras sekitar 12,8 persen, sehingga sudah cukup kering. Proses penggilingannya juga bersih,” jelas Rizal.
Serapan Nasional Capai 3,5 Juta Ton per Agustus 2026
Dalam kesempatan yang sama, Rizal memaparkan perkembangan capaian penyerapan beras secara nasional. Per 1 Agustus 2026, Bulog telah menyerap sekitar 3,5 juta ton gabah setara beras.
Jumlah tersebut setara dengan 87 persen dari target nasional sebesar 4 juta ton yang ditetapkan Presiden. Pihaknya optimistis target tersebut dapat terlampaui pada September 2026.
“Kami optimistis target 4 juta ton dapat tercapai pada September 2026. Namun setelah target itu terpenuhi, Bulog tetap berkomitmen menyerap hasil panen petani semaksimal mungkin agar seluruh produksi petani dapat terserap dengan baik,” tuturnya.
Capaian ini dinilai menjadi modal penting dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Dengan penyerapan yang maksimal, diharapkan harga gabah di tingkat petani tetap stabil dan menguntungkan.