PANGANDARAN — Pemandangan khas musim rebon tampak di Lapangan Katapang Doyong, Sabtu (25/7/2026). Puluhan nelayan sibuk membalik-balik udang rebon basah yang dijemur di bawah terik matahari. Aroma khas udang kering berpadu dengan angin pantai menjadi penanda musim panen yang dinanti setiap tahun.
Ritme Malam di Bagang: Menunggu Arus Laut
Nono, salah seorang nelayan, mengatakan penangkapan dilakukan di bagang yang berjarak ratusan meter dari bibir Pantai Timur Pangandaran. “Biasanya kami menangkap udang rebon di bagang menggunakan jaring sirib atau branjang yang ukurannya cukup besar,” ujarnya.
Aktivitas melaut dimulai pukul 18.00 WIB hingga 04.00 WIB. Selama semalam, jaring diangkat berkali-kali dengan jeda sekitar satu jam. Menurut Nono, banyak sedikitnya hasil tangkapan sangat tergantung perubahan arus laut. Saat cuaca bersahabat, hasil bisa mencapai satu kuintal hingga satu ton.
Harga dan Pemasaran: Bandar Langsung Datang
Setelah ditangkap, udang rebon dibawa ke Lapangan Katapang Doyong untuk dijemur. Proses pengeringan dengan panas matahari berlangsung setengah hari hingga seharian penuh, tergantung cuaca. Udang yang sudah kering langsung dikemas dan dipasarkan.
“Habis di jemur langsung di kemas. Biasanya bandar dari Tegal dan Banjar datang membeli ke sini,” ucap Nono. Saat ini harga udang rebon kering kualitas terbaik dibanderol Rp40–43 ribu per kilogram. Untuk kualitas rendah, harganya hanya belasan ribu rupiah per kilogram.
Dampak Ekonomi: Pendapatan Nelayan Terdongkrak
Melimpahnya hasil tangkapan membuat pendapatan nelayan ikut meningkat. Nono mengaku dari hasil tangkapan satu ton semalam, keuntungan bersih bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. “Ya, itu tergantung kualitas dan harga jual di pasaran,” katanya.
Selain meningkatkan pendapatan nelayan, udang rebon juga memiliki nilai tambah sebagai bahan baku terasi, ebi, dan aneka bumbu masakan yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.