JAWA BARAT — Hengky Kurniawan jarang membagikan momen kebersamaan dengan anak perempuannya, Shakilla Azzahra Kurniawan, ke publik. Padahal keduanya punya hubungan ayah-anak yang hangat dan bisa jadi contoh soal cara menjaga privasi keluarga tanpa kehilangan kedekatan.
Hengky Kurniawan dan anak perempuannya, Shakilla Azzahra Kurniawan, kini memasuki fase yang menarik. Shakilla sudah berusia 10 tahun, usia ketika anak mulai butuh ruang pribadi sekaligus tetap dekat dengan orang tua.
Meski jarang tampil bersama di depan publik, keduanya tetap menjaga hubungan yang erat. Bagi ibu yang punya anak di usia ini, ada beberapa hal yang bisa dipelajari soal cara menyeimbangkan privasi dan kedekatan keluarga.
Hengky memilih tidak memamerkan setiap momen bersama anak perempuannya. Pilihan ini masuk akal, terutama karena anak usia 10 tahun mulai punya kesadaran tentang privasi dan citra diri.
Ibu bisa meniru prinsip yang sama. Tidak perlu memotret dan mengunggah setiap kegiatan anak. Sesekali biarkan momen itu hanya jadi kenangan keluarga.
Jarang muncul di publik bukan berarti hubungan ayah dan anak renggang. Shakilla tetap tumbuh dengan figur ayah yang hadir, meski tidak selalu terlihat di layar.
Anak usia 10 tahun biasanya lebih menghargai kehadiran nyata daripada dokumentasi. Waktu makan bersama, mengantar sekolah, atau mendengar cerita hariannya jauh lebih berarti.
Di usia ini, anak perempuan mulai membentuk identitas dan pertemanan sendiri. Orang tua perlu hadir tanpa mendominasi.
Cara sederhana: tanyakan pendapatnya sebelum memutuskan sesuatu yang menyangkut dirinya. Misalnya soal pilihan kegiatan atau gaya rambut. Anak merasa dihargai, kedekatan pun tetap terjaga.
Hengky dan keluarga memilih membatasi tampilan anak di ruang publik. Langkah ini sejalan dengan saran banyak psikolog anak soal dampak eksposur digital sejak dini.
Untuk ibu di rumah, cukup terapkan aturan internal: foto anak hanya untuk keluarga dekat, dan minta izin anak sebelum mengunggah. Kebiasaan kecil ini membangun rasa aman.
Kedekatan tidak dibangun dari momen besar, tapi dari kebiasaan harian. Sarapan bareng, cerita sebelum tidur, atau jalan sore keliling kompleks bisa jadi jembatan komunikasi.
Anak yang terbiasa bicara hal kecil akan lebih mudah bercerita saat menghadapi masalah besar. Ini bekal penting menjelang masa remaja.
Jika anak mulai menarik diri, enggan bicara, atau menunjukkan perubahan perilaku drastis, jangan langsung dianggap fase biasa. Ajak bicara empat mata tanpa interogasi.
Bila anak tetap tertutup dalam waktu lama atau muncul keluhan fisik berulang tanpa sebab jelas, konsultasikan ke psikolog anak. Deteksi dini selalu lebih baik.
Menjaga kedekatan dengan anak perempuan usia 10 tahun tidak butuh sorotan publik. Cukup konsistensi, ruang, dan rasa aman yang dibangun setiap hari di rumah.