BOGOR — Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut pembenahan jembatan dilakukan karena lebar sebelumnya tidak lagi memadai untuk aktivitas warga. Ia mencatat jembatan itu terakhir diperbaiki pada 1985, atau 41 tahun lalu.
"Terakhir diperbaiki 1985, sudah 41 tahun lalu. Saat itu sudah diperbaiki, tetapi sangat sempit, jadi kita lebarkan," ujar Dedie, Sabtu (24/10/2026).
Jembatan hasil revitalisasi diklaim mampu menahan beban hingga 20 ton. Meski begitu, kendaraan besar seperti truk tronton tetap tidak diperbolehkan melintas.
"Anggaran kurang lebih Rp600 juta, dengan kekuatan 20 ton. Tronton tidak bisa melintas," kata Dedie.
Anggaran tersebut dipakai untuk menunjang mobilitas harian warga sekaligus meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna akses penghubung. Jembatan Pulo Geulis selama ini menjadi jalur utama aktivitas masyarakat setempat.
Direktur Desa Inklusi, Lazyra Amadea, merasakan langsung perubahan lebar jembatan. Menurutnya, akses sebelumnya sangat sempit bagi pengendara roda dua.
"Dulu jembatannya kecil banget, cuma muat satu motor. Sekarang sudah bisa untuk dua motor. Jalan untuk warga juga sudah lebih luas," kata Lazyra.
Lazyra juga menyoroti penambahan pagar besi dan atap. Pagar dinilai mengurangi risiko anak-anak terjatuh ke sungai saat bermain atau berlari di jembatan.
"Menarik juga karena sekarang ada atapnya. Seumur-umur saya melihat Jembatan Pulo Geulis, baru kali ini pakai atap," tuturnya.
Pembenahan jembatan merupakan bagian dari penataan kawasan Pulo Geulis secara menyeluruh. Perbaikan drainase di kawasan itu telah selesai, sementara pemasangan sheet pile atau struktur penahan tanah di sepanjang jalan sebagian besar telah rampung.
Penataan juga menyasar hunian warga melalui program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH). Dalam program pemerintahan periode 2025–2029, sebanyak 200 rumah ditargetkan mendapat perbaikan.
Hingga kini, 44 rumah telah diperbaiki dan 156 rumah lainnya masih menjadi target penyelesaian berikutnya. Dedie menyebut Pemkot Bogor mendapat dukungan Yayasan Buddha Suci dalam pelaksanaan program tersebut.
"Sejalan dengan perbaikan jembatan untuk menunjang program RTLH di kawasan ini, jadi infrastrukturnya diperbaiki juga. Tentu saja dibantu Yayasan Buddha Suci," tuturnya.
Desa Inklusi turut membagikan 300 susu, 300 roti, serta makanan ringan untuk anak-anak di kawasan Pulo Geulis. Kegiatan itu menyasar kelompok yang membutuhkan perhatian lebih, seperti anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia.
Lazyra menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung program Pemkot Bogor, termasuk pembangunan fasilitas umum dan pelayanan masyarakat. Desa Inklusi juga berencana ikut mendukung pembangunan posyandu.
"Desa Inklusi pastinya mendukung setiap program Pemerintah Kota Bogor. Dari awal, kami juga bertekad mendukung Perumkim yang membangun jembatan dan posyandu. Kami juga merencanakan untuk ikut mendukung pembangunan posyandu," jelasnya.
Penataan kawasan diharapkan mempertahankan karakter Pulo Geulis sebagai simbol toleransi dan kebersamaan di Kota Bogor.