JAWA BARAT — Laga Barcelona kontra Real Madrid di Camp Nou akhir pekan ini tetap menyedot perhatian ratusan juta penonton, meski statusnya sebagai duel terbesar dunia mulai dipertanyakan. Kemenangan Barça akan menjauhkan mereka sembilan poin dari Madrid di puncak La Liga, sementara kemenangan Madrid bisa jadi titik balik musim mereka.
Duel bertajuk El Clásico itu kini memasuki babak baru. Dominasi rivalitas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sudah lama memudar, dan panggung utama sepak bola perlahan berpindah ke Premier League serta ke tangan Paris Saint-Germain di level Eropa.
Pertanyaannya sederhana: apakah Clásico masih menjadi laga terbesar di dunia? Tiga hal berikut jadi bahan perdebatan menjelang bentrokan di Camp Nou.
Selama satu dekade terakhir, El Clásico bukan sekadar pertandingan sepak bola terbesar. Laga ini adalah narasi utama olahraga, dengan gaungnya merambah hingga pemungutan suara Ballon d'Or tiap tahun.
Seiring memudarnya duel Messi-Ronaldo, relevansi Clásico ikut tergerus. Premier League kini menjadi liga paling dominan dengan jumlah penggemar terbanyak di dunia.
Laga perebutan gelar antara Manchester City dan Arsenal pada April lalu mencetak rekor sebagai pertandingan Premier League paling banyak ditonton di televisi Amerika Serikat. Angkanya hampir dua kali lipat rekor Clásico paling banyak ditonton di AS yang tercipta pada Oktober 2025.
Kemasan penyiaran jadi salah satu penyebab. La Liga berpindah-pindah penyiar, sementara Premier League berkomitmen jangka panjang dengan Sky Sports di Inggris dan NBC di AS. Laga Premier League direkam dengan lebih banyak kamera, tampil lebih hidup, dan mudah ditemukan penonton di panduan televisi.
La Liga memang mencoba memperluas jangkauan global, membuka kantor di New York hingga melempar wacana menggelar laga kompetitif di Miami. Sejumlah Clásico sebelumnya juga dijadwalkan pada jam tayang utama Asia. Namun Premier League punya keunggulan sebagai liga berbahasa Inggris pertama yang lebih mudah menembus pasar media modern.
Pada masa kejayaan Clásico, laga ini adalah etalase permainan terbaik yang dimiliki sepak bola. Kondisi itu sudah berubah.
Barcelona menjadi tim paling menghibur di Eropa, tetapi kekacauan gaya main Hansi Flick—terutama garis pertahanan tinggi—menahan mereka dari persaingan serius di Liga Champions. Sudah satu dekade penuh Barça tidak menjuarai kompetisi itu.
Real Madrid lebih baru meraih kejayaan Eropa dengan trofi Piala Champions ke-14 pada 2024. Namun mereka jauh dari tim yang mendominasi benua di era Carlo Ancelotti dan Zinedine Zidane.
Madrid tertinggal dari perkembangan sepak bola modern. Penunjukan José Mourinho pada musim panas tidak mengubah apa pun. Jika ada, kembalinya The Special One ke Santiago Bernabéu justru menyorot stagnasi klub. Xabi Alonso sempat berani membawa ide baru, tetapi terusir karenanya.
PSG kini menjadi standar tertinggi permainan, dipimpin mantan pemain sekaligus pelatih Barcelona, dengan mantan penyerang Barça menjalankan peran false nine yang dulu dipopulerkan Messi.
Lamine Yamal mencatat 20 kontribusi gol dalam 12 laga Barcelona musim ini. Kylian Mbappé mengumpulkan 15 kontribusi gol dalam jumlah pertandingan sama untuk Real Madrid.
Keduanya mewakili arah baru tim masing-masing dan berpeluang mendominasi Clásico sebagai individu selama bertahun-tahun, seperti yang dulu dilakukan Messi dan Ronaldo.
Laga akhir pekan ini bisa jadi bentrokan pertama yang benar-benar dikenang antara keduanya. Vinícius Júnior absen karena sanksi, sementara Raphinha baru pulih dari cedera otot ringan. Fokus pun semakin tertuju pada Mbappé dan Lamine Yamal.
Messi mencetak 26 gol Clásico, terbanyak sepanjang sejarah laga ini. Ronaldo berada di posisi kedua dengan 18 gol, setara Alfredo Di Stéfano. Mbappé dan Lamine Yamal masih jauh dari angka itu, tetapi setiap pertemuan memberi mereka panggung untuk mendekat.
Kemenangan Barcelona akan menjauhkan mereka sembilan poin dari Madrid di puncak klasemen. Sebaliknya, kemenangan Madrid bisa menjadi katalis untuk sisa musim mereka.
Apa pun hasilnya, Clásico tetap membawa makna. Yang berubah adalah cara dunia menyaksikannya—tidak lagi berhenti total seperti saat Messi dan Ronaldo masih saling berhadapan.